Langsung ke konten utama

DANA


Oleh Akhid Nur Setiawan

Berkas rangkap tiga saya tanda tangani untuk dilaporkan ke KPU. Laporan awal dana kampanye saya tertulis Rp 1.000.000 dari dana pribadi. Semoga bukan kesalahan karena sebenarnya nominal itu bukan dana pribadi namun merupakan pemberian salah satu guru ngaji saya. Saya termasuk orang yang percaya bahwa Alloh berkenan menyertakan barokah dalam setiap pemberian guru kepada murid.

"Biaya demokrasi kita tu terlalu mahal kok," kata tetangga saya dalam sebuah jagongan.
Selama ini memang ada anggapan (atau fakta) bahwa biaya yang harus dianggarkan dan dikeluarkan baik oleh pihak penyelenggara maupun peserta pemilu sangatlah besar. Pemilu serentak konon juga dilatarbelakangi efisiensi biaya. Seorang petugas TU di kampus saya kaget saat tahu saya melegalisir ijazah untuk apa, "Opo ra rugi mas? Entek atusan yuto lho kuwi. Tekan saiki wes entek piro mas?"

Bab pendanaan ini memang jadi pintu awal dari ujian kredibilitas dan integritas calon pemimpin. Teman saya pernah ditawari dana liar. Dijamin dibiayai sampai jadi, begitu kata providernya ke beberapa caleg di waktu yang terpisah. Pemilik dananya siapa? Berlapis tentunya. Yang menawarkan ke caleg hanya "marketingnya". Ada juga penawaran dana penopang agar bisnis saya tidak ikut kolaps jika terpaksa banyak keluar dana saat kampanye. Dana kampanye dengan skema pemberdayaan? Saya pernah ditawari. Jumlahnya fantastis. Menggiurkan sekali, tapi ampun dah. Kata salah satu guru saya, "Subsidi itu selalu diikuti intervensi," saya ingat-ingat itu.
Terkait subsidi maupun donasi sebagai bantuan untuk para politisi, bukan hanya investasi kepentingan yang saya khawatirkan namun juga investasi kasus. Ngeri saya.

Dalam sebuah berita disampaikan bahwa 41 dari 45 anggota dewan di suatu daerah ditangkap KPK. Ini tentu di luar nalar dan sulit diterima akal sehat. Kira-kira apa yang mendorong mereka melakukan (dugaan) tindak pidana korupsi secara aklamasi seperti itu? Mungkin tidak jika semua berawal dari harga kursi dewan yang tinggi? Bisa jadi. Keberadaan donatur di belakang pencalonan juga bisa menjadi salah satu faktor pendorong. Seorang anggota dewan bisa tersandung, terjerat, atau terbelenggu kepentingan penyandang dana hingga ia rela maupun terpaksa melacurkan jabatan.

"Lha terus rencana dana kampanyemu dari mana?" tanya salah seorang teman pada saya.

Jadi begini, selain menggunakan dana pribadi, saya ingin mengundang siapapun yang mempercayai saya untuk memberikan dana kampanye pada saya. Untuk menghindari investasi kepentingan maka semua dana yang masuk ke saya bentuknya adalah transaksi pembelian buku. Saya menulis sebuah buku berjudul "8 Pesona Kepribadian Seseorang". Siapapun yang ingin membantu gerakan saya dalam bentuk dana, silakan pesan buku tersebut melalui 081904403366 atau klik bit.ly/DanaiAkhid.

Buku ini bukan buku profil saya dan sama sekali tidak ada gambar partai. Buku ini berisi delapan karakteristik pribadi muslim yang ideal. Melalui buku ini Anda akan diajak membedah satu persatu sisi kepribadian seorang muslim yang paripurna. Tidak hanya itu, dalam buku ini disertakan daftar kriteria yang harus dipenuhi sebagai standar minimal pribadi ideal. Buku ini hadir bagi segenap muslim yang sedang menempuh jalan kebaikan dan perbaikan. Menjadi seorang muslim itu artinya menjadi seperti apa? Buku ini jawabannya. Hijrah itu mau ke mana? Buku ini petanya. Buku ini layak untuk dibaca sendiri dan sangat cocok dihadiahkan kepada mad'u jika Anda seorang dai. Karena sesungguhnya dakwah paling sederhana ialah memperbaiki diri sendiri. Jika ada orang lain yang mengikuti, itu bonus saja.

Segera pesan buku "8 Pesona Kepribadian Seseorang"! Klik bit.ly/DanaiAkhid.

Dana yang terkumpul akan saya gunakan untuk apa?
1. Pertemuan-pertemuan tim sukses
2. Pertemuan-pertemuan tatap muka dengan calon pemilih
3. Pembuatan produksi iklan
4. Pembuatan alat peraga kampanye
5. Penyebaran bahan kampanye
6. Pembinaan dan pendampingan pemilih baik sebelum maupun setelah PEMILU
7. Kegiatan lain yang tidak melanggar larangan kampanye dan peraturan perundang-undangan

Semoga ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan politik bersih dari awal. Sebesar apapun dan dari manapun dananya, akan saya tukar dengan buku "8 Pesona Kepribadian Seseorang". Biarkan selisih harganya yang saya manfaatkan sebagai dana kampanye. Agar tidak ada kepentingan yang tersisa selain: IZINKAN SAYA BEKERJA UNTUK RAKYAT.

Segera pesan buku "8 Pesona Kepribadian Seseorang"! Klik bit.ly/DanaiAkhid.

Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: