Langsung ke konten utama

KELUARGA


Oleh Akhid Nur Setiawan

Saat istri saya hamil kedua, kami sedang mengelola Pesantren Masyarakat Assalaam yang ada di dusun Nglinggan Wedomartani Ngemplak Sleman. Di bawah Yayasan Assalaam Yogyakarta, berbagai macam orang dengan afiliasi masing-masing mencoba untuk berkarya bersama. Di sana ada pengurus dari NU, ada juga dari Muhammadiyah, dan ada orang-orang PKS. Hanya saja, belum ada pengasuh yang dituakan di sana. Kami tinggal di sana hanya mengajar dan mengelola.

"Assalaam itu belum ada kiainya," saya bilang begitu pada istri saya di ruang bersalin.
Ya, saya menyemangati istri saya sambil berharap anak kedua kami lahir laki-laki. Anak kedua kami diperkirakan perempuan lagi dalam beberapa kali USG, padahal kami sudah menyiapkan nama laki-laki sejak anak pertama.

Anak pertama kami bernama Halilah Halimah Mursyidah. Doa kami semoga ia beserta anak keturunannya menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah umat. Halimah seorang wanita yang memiliki peran penting di masa kecil Nabi, pengasuh pemimpin besar. Mursyidah menandakan bahwa kami berharap dia kelak menjadi wanita pengarah, pembimbing umat.

Bukan karena membeda-bedakan gender, hanya saja kami sangat berharap nama yang sudah kami siapkan bisa dipakai oleh salah satu dari anak kami. Kami menyematkan mimpi besar dalam nama itu. Sesaat setelah saya mengatakan kalimat penyemangat pada istri saya, akhirnya Alloh hadirkan bayi laki-laki yang kami beri nama Abdullah Dahlan Asy'ari. Kami berdoa semoga ia dan anak keturunannya menjadi bagian dari pengawal bangkit dan bersatunya umat Islam.

Asy'ari berasal dari nama belakang KH Hasyim Asy'ari. Latar belakang keluarga saya ialah Nahdhatul Ulama. Orang tua saya beralamat di Sapen Umbulmartani Ngemplak Sleman. Bapak saya H. Jamal, S.Ag. berorganisasi di MWC NU Ngemplak. Ibu saya Hj. Rustiyah, S.Pd.I. mengabdi di RA Sunan Pandanaran Ngaglik sejak awal mengajar, sejak awal berdirinya TK di bawah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran hingga beliau wafat. Keduanya aktif di KBIH Sunan Pandanaran.

Dahlan berasal dari nama belakang KH Ahmad Dahlan. Latar belakang keluarga istri saya ialah Muhammadiyah. Mertua saya beralamat di Ngemplak Wukirsari Cangkringan. Bapak mertua saya Drs. H. Suradji lama berorganisasi di Majelis Dikdasmen PDM Sleman. Ibu mertua saya Hj. Suprijati, S.Pd.I. aktif di PDA Sleman. Keempat orang tua kami bertemu dalam satu organisasi di IPHI Sleman (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia).

Abdullah berasal dari nama belakang KH Rahmat Abdullah. Kami berdua dengan latar belakang berbeda dipertemukan oleh para murobbi Partai Keadilan Sejahtera. Kami ditarbiyah di dalam gerakan dakwah PKS. Abdullah Dahlan Asy'ari menjadi perlambang mimpi kami tentang persatuan umat. Sesungguhnya kita semua ini merupakan satu keluarga.

Ketiga tokoh di atas masing-masing dibuatkan film oleh para penerus mereka dengan judul "Sang Kiai" untuk KH Hasyim Asy'ari, "Sang Pencerah" untuk KH Ahmad Dahlan, dan "Sang Murobbi" untuk KH Rahmat Abdullah. Dalam salah satu adegan film "Sang Kiai" ada dialog saat seorang santri menasihati temannya yang ingin pergi dari pesantren, "Bapakmu itu ada tiga: yang memperanakmu, yang menikahkanmu dengan anak gadisnya, dan yang mengajarimu."

Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, dan Partai Keadilan Sejahtera, ketiganya adalah bapak kami. Sesungguhnya tak ada yang perlu dipertentangkan jika kita telah saling mengenal dengan baik. Kami bersyukur terlahir dalam keluarga ini, bertemu, bersatu, berpadu di jalan ini. "Kuatkanlah ikatannya, kokohkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahya-Mu yang tiada pernah padam, ya Robbi bimbinglah kami."

Anak ketiga kami memiliki dua ibu: istri saya dan temannya yang merupakan ibu susuan anak kami. Ibu susuan anak ketiga kami sangat tertarik dengan kajian-kajian tentang akhir zaman. Hal itu menjadi inspirasi kami untuk memberi nama anak ketiga. Abdulhadi Jaisyul Mahdi, semoga ia dan anak keturunannya senantiasa berada dalam bimbingan dan teguh berjalan di barisan kebenaran, menjadi hambanya Yang Maha Memberi Petunjuk dan pasukannya orang yang diberi petunjuk.

Mau tidak mau, suatu saat nanti kita semua akan dan harus rela dipimpin oleh Al Mahdi. Kita akan berbaris bersama, tidak peduli dari organisasi masyarakat mana atau gerakan dakwah apa. Sejak sekarang, mari belajar saling mencintai karena sesungguhnya kita ini satu keluarga. Perbedaan-perbedaan tidak jadi halangan. Kita akan terus saling berlomba dalam kebaikan, berkreasi, bekerja sama, bersinergi, berusaha menebar rahmat ke seluruh alam.

Jika Anda juga mencintai persatuan dan sepakat dengan mimpi saya tentang persatuan umat, mari bersama menjaga dan membangun negeri ini. Berikan dukungan kepada saya melalui nomor WhatsApp +628979700923 atau kunjungi tautan ini melalui browser Anda bit.ly/DukungAkhid. Terima kasih.

Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: