Langsung ke konten utama

GAWAT




Oleh Akhid Nur Setiawan
Baca tulisan menarik lainnya di pejuangperadaban.blogspot.com
Siang itu di bangjo perempatan Denggung terdengar suara sirine meraung-raung. Arahnya dari mana belum bisa diterka. Sesaat kemudian di belakang kami melintas mobil pemadam kebakaran dengan bergegas. Mungkin ada panggilan darurat sehingga mobil merah itu mengambil lajur kanan lalu menerobos lampu merah. Alloh... baru saja selesai sholat Jumat sudah ada lagi kejadian gawat.
Laju mobil damkar itu seperti mengajak mulut saya mempercepat membaca istighfar. Mungkin keberadaannya terasa biasa saja bagi pengguna jalan lainnya. Bagi saya, ini adalah kejadian yang mengiyakan apa yang sebelumnya dalam khutbah Jumat diwasiatkan.
Seorang khotib lulusan S1 Keperawatan UGM diminta oleh takmir masjid Rumah Sakit Akademik UGM untuk menjadi imam pada hari jumat itu. Selama ini sholat jumat muslimin RSA UGM diadakan di sebuah selasar di lantai dua. Takmir masjid menargetkan pembangunan masjid Asy-Syifa RSA UGM selesai sebelum Ramadhan 2019. Untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid RSA UGM bisa melalui BRI Syariah (Kode: 422) No 1006192218 an Adam Moeljono or Setyawan, kontak 081392498569 (Adam) atau 083867893249 (Setyawan).
Di balik podium air mata sang khotib meleleh mendengar suara adzan yang begitu menyentuh dilantunkan oleh muadzin. Muadzin pemilik suara syahdu itu adalah seorang dokter, ketua takmir masjid RSA UGM. Sang khotib nampak berat untuk berbicara memulai menyampaikan khutbah.
Setelah memohon perlindungan kepada Alloh dari keburukan pribadi dan amalnya, sang khotib berusaha mewasiatkan kepada diri sendiri dan kepada jamaah mengenai sholat. Bukan karena merasa telah baik dalam sholatnya namun tugas sebagai khotib yang membuatnya berani menyampaikan hal itu. Sungguh jika yang harus memberi nasihat itu orang yang telah lebih baik, niscaya tidak akan ada orang mau menasihati orang lain di dunia ini.
"Sesungguhnya sholat, atas orang-orang beriman itu wajib/ ditetapkan waktu-waktunya."
Khotib itu menyampaikan apa yang sebelumnya juga ia sampaikan pada para siswa jurusan keperawatan yang akan melaksanakan praktik di rumah sakit. Ia berpesan agar mereka yang bertugas di rumah sakit segera melaksanakan sholat saat sudah masuk waktu sholat.
"Segeralah sholat jika tidak ada pekerjaan darurat, udzur, atau hajat. Kita tidak tahu kegawatan apa yang akan terjadi tiga menit, lima menit, atau sepuluh menit setelah dikumandangkan adzan."
"Segeralah sholat karena tidak mustahil sejenak setelah adzan petugas di UGD kedatangan pasien gawat yang sangat banyak sehingga waktu sholatnya harus mundur."
"Yang di ruang perawatan intensif, yang di bangsal, bukan tidak mungkin setelah adzan berlalu tiba-tiba ada pasien mengalami kegawatan, henti napas, henti jantung, dan sebagainya."
"Jangan sampai terlalu asyik dengan pekerjaan, terlalu sibuk dengan tugas sehingga menunda atau bahkan melewatkan waktu sholat."
Alloh berfirman dalam surat Al Ma'un, "Fawailun lil mushollin, alladziina hum 'an sholaatihim saahuun..."
"Celakalah orang yang sholat, yaitu mereka yang lalai dalam sholatnya."

"Sebagian mufassir berpendapat bahwa lalai yang dimaksud adalah tidak khusyuk dalam sholat, sebagian yang lain ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud lalai ialah yang menunda waktu sholat hingga hampir masuk waktu sholat berikutnya."
"Janganlah kita termasuk orang yang celaka karena lalai dalam sholat. Segera sholat saat sudah masuk waktu sholat."
"Jika memungkinkan ke masjid ya berjamaah di masjid. Jika tidak mungkin ya usahakan berjamaah. Jika tidak mungkin berjamaah segeralah sholat sendiri. Jika harus bergantian dengan rekan kerjanya ya bergantian."
"Jangan menunda waktu sholat hanya karena mengobrol atau melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak darurat."
"Istri saya pernah menceritakan kejadian yang dialaminya ketika tahun 2010 terjadi erupsi gunung Merapi. Waktu itu ia belum menjadi istri saya. Istri saya rumahnya di Cangkringan. Saat itu rumahnya dijadikan tempat pengungsian."
"Jam sepuluh malam istri saya baru pulang dari kelurahan. Ia menjadi relawan membantu membungkus nasi untuk dibawa kepada para pengungsi."
"Sampai di rumah sebagian besar pengungsi sudah tidur. Ia letakkan kresek berisi nasi bungkus begitu saja di rumah depan dimana para pengungsi beristirahat."
"Segera ia melaksanakan sholat isya karena di kelurahan belum menyempatkan untuk sholat. Ada temannya seorang relawan mahasiswi menunda diajak berjamaah, sibuk mengobrol."
"Selesai ia mengucap salam, serta merta gempa yang begitu dahsyat terjadi. Itulah erupsi besar Merapi di malam jumat yang membuat para pengungsi lari hingga 25 kilometer dari puncak Merapi."
"Ia sangat bersyukur sempat melaksanakan sholat sebelum erupsi gunung Merapi yang beriring hujan abu, kerikil, dan lumpur itu menimpa tempat tinggalnya. Alhamdulillah pula masih selamat."
"Temannya yang sebelumnya menunda diajak berjamaah, saat gempa terjadi ia baru mulai takbiratul ihram."
"Bayangkan, yang semestinya ia sudah berlari, karena menunda sholat, saat gempa ia baru mulai sholat. Akhirnya sholatnya pun dilakukan sangat cepat dan tergesa-gesa, kilat karena ingin segera mencari selamat."
Kira-kira begitu yang disampaikan khotib dalam khutbah Jumatnya.
Mari kita segera sholat sebelum terjadi kondisi gawat yang tak bisa dikendalikan. Bencana alam dan musibah beberapa kali terjadi sesaat setelah masuk waktu sholat. Gempa Bantul 2006 terjadi sesaat setelah sholat subuh. Gempa di Lombok yang besar terjadi sesaat setelah sholat isya. Di Palu Alloh berkehendak gempa dan tsunami terjadi sesaat setelah sholat maghrib, bahkan ada yang wafat sedang dalam kesempatan mengumandangkan adzan maghrib.
Semoga Alloh beri pertolongan untuk kita bisa menegakkan sholat sebagaimana doa Nabi Ibrahim, "Yaa Tuhanku, jadikanlah aku dan anak keturunanku orang-orang yang mendirikan sholat."
Mari kita sholat di awal waktu sesegera mungkin jika tidak ada pekerjaan darurat, udzur, atau sedang ada hajat, karena kita tidak tahu kegawatan apa yang akan bisa terjadi sesaat setelah masuk waktu sholat.
_"Allohumma a'innaa 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatik"_

Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: