Langsung ke konten utama

LESTARI




Oleh Akhid Nur Setiawan
Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini pernah melihat atau melintasi jembatan sungai berpagar lalu bertulis "Dilarang buang sampah di sini!". Sudut-sudut gang, bawah pohon-pohon besar, lahan-lahan kosong di pinggir jalan juga memiliki nasib yang tak jauh beda. Terkadang kata-kata yang tertulis bernada negatif seperti didoakan cepat mati, bagian dari hewan tertentu, atau ancaman dihajar warga. Sedikit pemberi peringatan memilih "bagi anda yang tidak buang sampah di sini kami doakan rejekinya lancar". Ya, jika Anda memiliki keprihatinan yang serupa, sebaiknya Anda melanjutkan membaca tulisan ini.
Ada masalah serius di tengah masyarakat kita. Sebagian masyarakat sudah bisa menyulap sampah menjadi uang untuk beasiswa pendidikan, biaya berobat, pembangunan fasilitas umum, dan sebagainya. Sebagian lain masih belum memiliki pilihan-pilihan yang baik untuk mengelola sampah. Masih ada masyarakat memilih membuang sampah di sungai. Masih ada masyarakat sambil berangkat bekerja menenteng tas plastik lalu dengan berjalan santai melemparkannya begitu saja di tempat-tempat sepi. Masih ada masyarakat menghanyutkan sampah di jalan saat hujan deras. Masih ada anak-anak, muda remaja, dewasa, bahkan orang tua enggan berjalan sedikit ke tempat sampah, lebih memilih berpura-pura menjatuhkan bungkus makanan di dekatnya. Saya melihat peristiwa-peristiwa itu langsung dengan mata kepala sendiri, mungkin Anda juga.
Berat rasanya harus mengatakan bahwa perilaku membuang sampah tak terarah bisa jadi bagian dari kekufuran atas nikmat Alloh. Bagaimana Alloh akan karuniakan kesejahteraan jika modal yang telah diberikan-Nya berupa bumi tempat tinggal yang indah ini tidak disyukuri? Kita diamanahi mengelola bumi, memanfaatkannya untuk makhluk yang tinggal di sini, kita harus menjaganya agar tetap lestari.
Ada empat tingkatan orang memperlakukan alam dan lingkungan hidup yang telah dikaruniakan kepadanya. Pertama, orang yang kufur, mereka merusak dan memberikan keburukan-keburukan pada alam. Kedua, orang yang dzolim, mereka mengambil banyak dari alam namun tidak mengembalikannya atau hanya sedikit mengembalikannya ke alam. Ketiga, orang yang adil, mereka mengambil dari alam lalu mengembalikan ke alam seperti sedia kala atau sama kadar dan jumlahnya. Keempat, orang yang ihsan, mereka mengambil dari alam secukupnya lalu memberikan kebaikan yang jauh lebih banyak pada alam. Kita termasuk yang mana? Sungguh, apapun yang kita ambil dari alam nanti akan dimintai pertanggungjawaban, juga apapun yang kita berikan ke alam. Kayu, batu, pasir, hasil tambang, air, minyak bumi, sampah, rantai karbon, asap, limbah, semuanya akan dihisab.
Memang, sifat dasar manusia adalah dzolim dan bodoh. Uniknya justru manusia yang diamanahi mengelola bumi, bukan malaikat yang suci dan selalu taat. Betul sekali! Kedzoliman manusia bisa dihapus dengan berbenah dan taubat, kebodohan manusia bisa dihilangkan dengan belajar dan meminta dikaruniakan ilmu yang bermanfaat. Dengan nurani, akal, dan keterampilannya manusia menanggung beban yang amat berat.
Manusia harus mengupayakan agar bumi ini cukup untuk ditinggali jutaan generasi, mungkin lebih. Saya dan Anda pasti percaya bahwa bumi ini cukup untuk ditinggali seluruh manusia bersama-sama, namun seluas apapun benua dan samudera tak akan pernah cukup jika ada satu orang serakah tinggal di sana. Demi keberlangsungan kehidupan di bumi, setidaknya ada tiga hal pokok yang perlu dijaga kedaulatan dan kelestariannya: pangan, energi, dan air. Dalam istilah asing ketiganya disingkat "FEW" yang artinya sedikit yaitu Food, Energy, and Water. Jika mencermati sejarah peperangan hingga hari ini, pada umumnya tiga hal itu yang diperebutkan.
Leluhur kami merupakan para petani. Sampai sekarang kami masih biasa membantu orang tua dan simbah kami menjemur padi. Betapa berat perjuangan para petani hingga ibu kami menanamkan pada kami bahwa satu butir nasi tak boleh ada yang dibuang sia-sia. Kalaupan ada sisa makanan, kami akan memberikannya pada ayam atau ikan di kolam.
Saya termasuk orang yang memegang prinsip bahwa bertahannya suatu negeri bukan diukur dari uang tapi dari ketersediaan bahan pangan dan makanan. Para petani masih bisa bertahan hidup sekalipun tidak memegang uang. Makanan untuk mereka makan ditumbuhkan oleh Alloh dari tanah yang mereka daya gunakan. Inilah kenapa kita harus berdaulat pangan. Di salah satu sudut hutan Taman Nasional Gunung Merapi tertulis, "Setelah pohon terakhir ditebang, setelah ikan terakhir ditangkap, mungkin kita baru akan sadar bahwa kita tidak bisa makan uang."
Lik Muji, nama adik dari ibu mertua saya. Ia merekayasa sistem kelistrikan di mushola depan rumahnya agar bisa memanfaatkan sinar matahari menjadi sumber listrik. Saat aliran listrik dari PLN terputus, adzan tetap bisa dikumandangkan dengan listrik yang telah disimpan dari panel surya. Sinar matahari adalah sumber energi melimpah bagi manusia. Tentu ada banyak potensi lain yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik ramah lingkungan. Ya, kedaulatan energi harus ada di tangan kita.
Selanjutnya kedaulatan air adalah satu hal yang juga harus bisa kita wujudkan. Orang-orang di kampung asal saya, saat musim kemarau mereka harus menurunkan air dari bendungan yang ada di lereng Merapi di kecamatan Cangkringan, melewati Pakem lalu baru ke Ngemplak ke lokasi sawah-sawah mereka. Saya berkali-kali ikut berjaga mengairi sawah. Biasanya kami membagi warga menjadi beberapa tim untuk memastikan air mengalir melalui jalur yang tepat. Bapak-bapak dan para pemuda semua turun tangan.
Adanya air untuk sawah dan kolam ternyata tidak membuat masalah selesai begitu saja. Saya pernah mengajak kawan saya ke sawah bapak mertua di Cangkringan. "Parah sekali ini air dan tanahnya, pencemaran limbahnya sudah berlebihan."
Selama ini petani kita dibuat kecanduan dengan bahan kimia yang tidak ramah lingkungan. Bahan-bahan itu terkumpul di tanah dan beredar melalui air. Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, lama-kelamaan tanah pertanian kita akan rusak dan tidak bisa berproduksi lagi.

Tak hanya para petani yang membutuhkan air, para peternak juga memerlukan air untuk rerumputan yang mereka tanam sebagai pakan ternak. Saat musim kemarau tak jarang peternak harus membeli air. Bayangkan biaya yang harus mereka keluarkan! Saudara sepupu istri saya di Cangkringan merasakan kesulitan yang dialami para peternak saat musim kemarau.
Berikutnya kita perlu memikirkan mengenai air bersih yang kita konsumsi sehari-hari. Di rumah mertua saya air begitu melimpah namun dari penampakannya seperti tidak layak untuk dikonsumsi. Akhirnya kakak ipar saya memasang alat untuk mengolah air tersebut sehingga lebih meyakinkan untuk diminum. Ia seorang teknisi pengolahan air dan begitu peduli dengan sumber daya air. Ia tinggal di Pogung, sekitar UGM. Pepohonan ditanamnya di sekitar rumah, sumur-sumur resapan dibuatnya di sekeliling rumah.
Merasa tergerak dengan itu semua, saya, Akhid Nur Setiawan, S. Kep., Calon Anggota Dewan DPRD Kabupaten Sleman, Daerah Pemilihan Ngaglik Pakem Cangkringan, nomor urut 7, dari Partai Keadilan Sejahtera, berkomitmen untuk memperjuangkan kedaulatan pangan, energi, dan air di kabupaten Sleman. Mari bergabung dalam gerakan saya. Untuk kedaulatan pangan, energi, dan air, untuk kelestarian lingkungan, untuk Sleman yang lebih baik, mari bergabung dengan gerakan saya melalui tautan bit.ly/SlemanLestari .
Kami baru belajar mencintai bumi dari lingkungan sekitar kami. Di sela-sela rumah kami tanami bunga, sayur dan buah. Sekecil apapun, kebaikan harus dimulai. Setiap jengkal tanah yang dikuasakan Alloh pada kita, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya.
Bantu saya menemukan para pemerhati lingkungan, pecinta alam, penggiat pertanian, peternakan, perikanan, inovator energi, atau siapa saja yang merasa peduli pada masalah-masalah kelestarian lingkungan, pangan, energi, dan air, khususnya di wilayah Ngaglik Pakem Cangkringan. Ajak mereka bergabung di bit.ly/SlemanLestari . Anda juga bisa langsung menghubungi saya di nomor ini: 08979700923. Jangan sungkan menyampaikan apa saja pada saya.
Semoga Alloh mengampuni, mengajari, dan meridhoi kita semua dalam bekerja menjaga bumi ini.
Terima kasih.

Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: