Langsung ke konten utama

PERAWAT


Oleh Akhid Nur Setiawan
"Anda tahu kenapa Rancangan Undang-undang Keperawatan belum juga goal? Karena tidak ada perawat di Senayan. Anda di sini tu sebenarnya tidak semua harus jadi perawat". I said, "Siap pak! Nantikan saya di Senayan tahun 2014."
Begitu isi status Facebook saya pada 15 Oktober 2011. Saya baru sadar kalau pernah bikin status seperti itu, setelah diingatkan oleh "Pada Hari Ini". Sekarang sudah hampir akhir tahun 2018.
Alhamdulillah, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan telah disahkan 17 Oktober 2014 oleh pak SBY. Tentu saja hal itu disambut gembira oleh para perawat. Akhirnya perawat menjadi profesi yang memiliki regulasi resmi di republik ini. Perawat merupakan profesi yang sama vitalnya dengan dokter dan tenaga kesehatan lain.
Apa bedanya praktik perawat dengan praktik dokter atau praktik bidan? Batasan wewenang profesi perawat dengan profesi lain seperti apa? Tindakan-tindakan keperawatan itu apa saja? Apa signifikasinya praktik mandiri keperawatan terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat? Klinik nyeri, klinik luka, home care, paliatif care, lalu apa lagi praktik mandiri yang bisa dilakukan perawat?
Klinik praktik keperawatan semakin marak didirikan oleh para perawat yang memiliki semangat untuk berwirausaha. Dengan praktik mandiri, persoalan kesejahteraan perawat mendapat titik terang. Meskipun ada kelakar, "Perawat sekarang penghasilannya lumayan setelah diperbolehkan praktik."
"Praktik mandiri dengan membuka klinik mas?"
"Bukan, praktik jadi ojek online. Haha!"

Ya, agar praktik mandiri perawat menjadi lebih bermartabat, lebih jelas dan tertata, tentu perlu dibuat aturan turunan dari Undang-undang Keperawatan. Dari hasil penelusuran saya, baru hitungan jari kabupaten/ kota yang menerbitkan Peraturan Daerah mengenai Praktik Keperawatan. Bola kini ada di tangan DPRD Kabupaten/ Kota.
Saudara saudari perawat dan tenaga kesehatan lain yang dimuliakan oleh Yang Maha Mulia, izinkan saya turut ambil bagian untuk berikhtiar memuliakan profesi yang sangat mulia ini. Saya lulusan S1 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Saya sempat menjalani program profesi / ners dan merasakan betapa luar biasa kerja keras perawat di berbagai ruang perawatan. Saya mencicipi beratnya beban seorang perawat komunitas yang berusaha menjaga dan meningkatkan status sehat masyarakat dengan berbagai masalah uniknya.
Saya sadari bahwa masalah kesehatan tidak selesai begitu saja dengan adanya BPJS dan pengobatan gratis. Orang sakit tidak sembuh begitu saja dengan pemeriksaan dan pengobatan. Ada mereka yang tidur ayam setiap malam, ada tindakan-tindakan pencegahan, ada perilaku-perilaku yang disarankan untuk menjaga kesehatan, ada pengetahuan-pengetahuan yang harus ditanamkan, semua itu bukan pekerjaan ringan.
Saya, Akhid Nur Setiawan, S. Kep., Calon Anggota Dewan DPRD Kabupaten Sleman, Daerah Pemilihan Ngaglik Pakem Cangkringan, nomor urut 7, dari Partai Keadilan Sejahtera, mengajak Saudara Saudari semua para perawat, dokter, ahli gizi, farmasi, dokter gigi, laboran, dan petugas profesi kesehatan lain, atau siapa saja yang peduli dengan masalah-masalah kesehatan untuk bergabung dalam gerakan saya. Untuk dunia keperawatan yang lebih baik, untuk dunia kesehatan yang lebih baik, untuk Sleman yang lebih baik, mari bergabung dengan gerakan saya melalui tautan bit.ly/SlemanSehat .
Bantu saya menemukan tenaga-tenaga kesehatan lain di Sleman atau siapa saja yang peduli pada masalah kesehatan, khususnya wilayah Ngaglik Pakem dan Cangkringan dengan mengajak mereka bergabung di bit.ly/SlemanSehat . Anda juga bisa langsung menghubungi saya di nomor ini: 08979700923. Jangan sungkan menyampaikan apa saja pada saya.
Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus membantu masyarakat mewujudkan kesehatan dan kebaikan di Kabupaten Sleman.
Terima kasih.


Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: