Langsung ke konten utama

PIKNIK




Oleh Akhid Nur Setiawan
Sebenarnya saya bingung mau memulai tulisan ini dari mana. Kami termasuk keluarga yang jarang mengkhususkan waktu untuk piknik. Saat suasana di rumah agak jenuh atau ada waktu yang kebetulan agendanya luang biasanya saya memang mengajak istri dan anak-anak untuk jalan-jalan namun seringkali dijawab oleh istri saya, "Silaturahim aja yuk, ke rumah siapa gitu."
Selain itu biasa juga istri saya menjawab, "Ke kebun bunga aja yuk, lihat-lihat anggrek."
Jika tidak seperti itu, istri saya suka menjawab, "Berkebun aja yuk."
Aduh dek... Jadi bingung kan? Saat keluarga yang lain posting foto keluarga di lokasi-lokasi folk atau tempat-tempat wisata yang kekinian, eh istri saya kalau diajak jalan-jalan kadang malah ngajak mindah posisi lemari, meja, sama dipan di rumah.
"Ini refreshing juga, ganti suasana kamar, nggak usah piknik," katanya.

Tapi ya nggak gitu-gitu banget kok. Kami juga pernah piknik ke Gembira Loka atau Jogja Exotarium atau ke pantai gitu, paling sering ke Taman Gajah atau Taman Denggung. Biasanya kami memilih berkunjung ke lokasi yang ada nilai bermain dan belajarnya untuk anak-anak. Maklum anak kami masih kecil-kecil. Kalau pas sedang pengen ngirit kami mengunjungi kandang kambing milik teman, tetangga atau kandang sapi milik saudara. Kami memberi makan hewan-hewan ternak itu lalu pulang membawa oleh-oleh berupa kotoran ternak untuk pupuk atau beberapa botol susu segar. Menengok sawah di sekitar rumah, menyusuri sungai, memancing di kolam simbah, semua itu mungkin lokasi wisata yang mahal jika dikomersilkan.
Ahad pagi sebelum saya menulis tulisan ini, kami mengikuti pengajian Ahad pagi di masjid Baitunnur Gentan Ngaglik. Ya, salah satu piknik kami juga adalah berkelana dari satu majlis ke majlis lain, numpang sholat di masjid pinggir jalan, atau menyengaja sholat di masjid tertentu. Materi ustadz waktu itu tentang perang Khaibar. Entah bagaimana alurnya tiba-tiba ustadz membahas seorang sahabat yang meminta izin agar diperbolehkan keluar dari Madinah untuk berwisata. "Sesungguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Alloh," jawab Nabi.
Setidaknya ada dua sudut pandang dalam memahami perkataan Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam saat menjawab sahabat yang meminta izin untuk piknik. Sudut pandang pertama, bahwa pikniknya umat beliau termasuk dalam kategori jihad fi sabilillah. Piknik dalam hal ini bisa berupa ke luar negeri atau menempuh perjalanan untuk keperluan umroh, menuntut ilmu, mengambil pelajaran dari kaum yang mendustakan Alloh dan rasul-Nya, berdakwah, dan merenungi keindahan ciptaan Alloh. Sudut pandang kedua, tidak ada waktu bagi umat beliau untuk piknik. Waktu yang dimiliki seorang muslim harus digunakan habis dalam rangka jihad fi sabilillah. Kapan istirahatnya? "Istirahatnya nanti di surga," kata bu Yoyoh Yusroh.
Saya kadang mengamati aura yang terpancar dari orang-orang yang sedang menempuh perjalanan ke tempat wisata atau ketika mereka telah sampai di tempat wisata. Tidak ilmiah memang, tapi saya merasakan kepenatan terpancar di wajah mereka. Mereka berwisata untuk mencari tempat pelarian dari masalah sehari-hari. Pernah saya iseng menghitung pertumbuhan jumlah pemancingan dan orang-orang yang pergi membawa pancing di sekitar saya. Kok pemancingan tambah banyak ya? Apa semakin banyak orang merasa stress atau tertekan di sini? Mereka ingin refreshing dengan memancing.
Uniknya, sebagian orang bukan menikmati apa yang mereka kunjungi namun sibuk mencari cara bagaimana agar mereka nampak sedang benar-benar menikmati liburan. Anda paham maksud saya? Ya, mereka sibuk berfoto untuk ditampilkan pada orang lain bahwa "Aku lagi piknik iki lur". Tentu tidak ada masalah dari itu semua. Dengan adanya lokasi wisata yang semakin banyak, pendapatan daerah bisa meningkat, kesejahteraan penduduk di lokasi-lokasi wisata juga bisa diangkat. Dunia digital mendukung itu semua, promosi wisata jadi semakin mudah. Satu akun sosmed satu duta wisata.
Lalu masalahnya di mana? Masalahnya ada di bagian ini, coba ikuti cara berpikir saya. Ketika orang-orang harus mencari tempat wisata yang tersembunyi atau jauh untuk melepaskan kepenatan, bisa jadi tempat tinggal kita selama ini sebenarnya tidak menyenangkan. Rumah, tempat kerja, jalanan, barangkali semua tempat itu belum bisa menghadirkan rasa nyaman. Jika di rumah penat, di perjalanan penat, di tempat kerja penat, bagaimana kita bisa menjadi manusia produktif dan penuh gairah? Mari kita pikirkan bersama.
"Pepohonan di pinggir jalan itu bagus banget kalau ditempel-tempeli anggrek," kata istri saya.
Itu benar. Coba lihat cara beberapa kota menghias jalan dengan pohon yang berbunga warna-warni. Taman-taman mulai banyak diaplikasikan ke ruang kosong atau lahan tidur milik negara. Hasil karya para seniman ditampilkan di jalan-jalan. Semua itu merupakan upaya keras pemerintah menciptakan suasana nyaman, menghibur, dan rekreatif di lingkungan sekitar. Saya turut merasakan kebahagiaan saat kampung-kampung kita berlomba menghias diri. Cat warna-warni, tulisan-tulisan dan grafiti, gambar-gambar tridi, lampion dan lampu kelap-kelip di malam hari, semua berusaha menghadirkan suasana happy.

Suasana nyaman perlu dibangun di sekitar kita. Kita ciptakan suasana nyaman di rumah, di tempat kerja, di jalanan, serta di mana saja. Lingkungan yang asri, tertata, edi peni, akan membawa suasana hati jadi berseri. Lingkungan yang kumuh, kotor, berantakan, akan membuat orang semakin mudah penat, cepat lelah, dan gampang marah. Semua itu bukan hanya tugas pemerintah. Menciptakan lingkungan yang nyaman merupakan tugas kita bersama, kebutuhan kita semua. Mari kita wujudkan bersama-sama.
Saya, Akhid Nur Setiawan, S. Kep., Calon Anggota Dewan DPRD Kabupaten Sleman, Daerah Pemilihan Ngaglik Pakem Cangkringan, nomor urut 7, dari Partai Keadilan Sejahtera, berkomitmen untuk bersama-sama memperjuangkan suasana nyaman di kabupaten Sleman, baik itu terkait lingkungan maupun dari sisi kepribadian dan budaya keseharian. Setiap sudut tempat di kabupaten Sleman harus diupayakan menjadi spot-spot selfi yang instagramable. Setiap masyarakat yang tinggal di Sleman harus menjadi pribadi-pribadi yang menyenangkan, ramah, dan penuh kesopanan. Dengan begitu siapapun menjadi ingin berkunjung ke Sleman, siapapun ingin bersaudara dengan orang Sleman, siapapun akan merasa nyaman singgah dan tinggal di Sleman. Siapapun yang bekerja di Sleman, akan merasa nyaman, aman, dan mendapat pencerahan-pencerahan.
Mari bergabung dalam gerakan saya. Mari bersama-sama kita ciptakan rasa aman, damai, dan kondusif di Sleman. Untuk Sleman yang nyaman, untuk Sleman yang lebih baik, mari bergabung dengan gerakan saya melalui tautan bit.ly/SlemanNyaman .
Bantu saya menemukan orang-orang kreatif, anak muda milenial, pekerja digital, arsitek, ahli tata kota, pecinta tanaman hias, teknisi landscape dan taman, seniman, budayawan, aktivis lingkungan, coach, motivator, agen perubahan, aktivis perdamaian, atau siapa saja yang merasa peduli pada masalah-masalah pariwisata dan kebudayaan, khususnya di wilayah Ngaglik Pakem dan Cangkringan. Ajak mereka bergabung di bit.ly/SlemanNyaman . Anda juga bisa langsung menghubungi saya di nomor ini: 08979700923. Jangan sungkan menyampaikan apa saja pada saya.
Semoga Alloh senantiasa memberikan rasa aman dalam diri kita, lingkungan kita, bahkan sejak dalam pikiran kita agar kita bisa lebih antusias, bergairah, dan produktif dalam bekerja mencari karunia-Nya.
Terima kasih.

Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: