Langsung ke konten utama

RUTE


Oleh Akhid Nur Setiawan

Seorang anak kelas tiga SMP bertekad untuk keluar dari kampung halamannya. Ia ingin belajar cara membaca Al Quran yang benar agar bisa mengajarkannya pada santri-santri TPA di kampungnya. Sebelumnya ia belajar membaca huruf hijaiyah saat masih sekolah di SD Umbulwidodo. Ia diajar oleh orangtua dan para asatidz di TPA Al Iman, satu-satunya Taman Pendidikan Al Quran di kelurahan Umbulmartani saat itu.

Ia bersama kakak-kakak kelasnya saat itu gemar berpetualang layaknya si Bolang. Masuk sungai, keluar perkebunan, menjelajah sawah, memancing, bermain layangan, menelusuri jalan setapak dari kampung satu ke kampung lain, mungkin semua itu kegiatan yang mulai langka bagi anak-anak jaman now. Ia sangat tidak rela jika ada salah seorang temannya tidak ikut berpetualang tapi justru diam-diam membaca Al Quran di masjid. Ya, karena waktu itu mereka suka beradu cepat menyelesaikan membaca Al Quran.

Menginjak usia remaja anak itu sekolah di SMP 8 Yogyakarta. Berangkat dan pulang sekolah ia naik angkot jurusan Terban - Kaliurang. Kadang pulang sekolah ia turun di terminal Pakem lalu naik Kol Thuyul jurusan 30. Kadang ia turun di Degolan karena sepedanya ia titip di sebuah rumah milik seorang simbah di sana. Kadang ia turun di pertigaan Pamungkas lalu dijemput orangtuanya. Barangkali ekstra kurikuler Seni Baca Al Quran yang diikutinya saat ia SMP menjadi salah satu pendorong untuk berbagi nikmatnya membaca Al Quran kepada orang lain.

Duduk di bangku SMA ia meminta izin kepada orang tua untuk tinggal di pondok pesantren. Karena berbagai pertimbangan akhirnya ia tinggal di rumah pamannya yang seorang tentara. Panitia seleksi pengurus SKI Al Khawarizmi tidak meloloskannya masuk dalam kepengurusan Sie Kerohanian Islam OSIS SMA 3 Yogyakarta. Di masa itu ia hanya bisa memendam rasa cemburu pada mereka yang setiap pekan berkumpul dengan kakak-kakak alumni dan bercengkrama mengurus kegiatan masjid serta saling memberi taushiyah. Ia pun mengisi masa SMA yang hanya dua tahun dengan berbagai kegiatan olahraga, kumpul-kumpul, membentuk grup band, serta kegiatan-kegiatan lain layaknya anak muda pada masa itu.

Diterima di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM tak menghalangi keinginannya untuk tinggal di Pondok Pesantren. Atas izin Alloh diikuti ridho dari orang tua ia sempat tinggal di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede sebelum akhirnya pindah ke Pondok Pesantren Mahasiswa Islamic Center Al Muhtadin Seturan di bawah asuhan Ir. H. Cholid Mahmud, M.T.. Ia dipertemukan dengan Tarbiyah saat duduk di bangku kuliah. Selama masa itu juga, atas rekomendasi kakak tingkat ikutlah ia belajar di Tarbiyah Tsaqofiyah Islamiyah Sleman yang bernaung di bawah Bidang Kaderisasi DPD PKS Sleman.

Ia ditakdirkan untuk mengurusi beberapa organisasi saat kuliah. Keluarga Akselerasi Padmanaba menjadi organisasi pertama yang ia ketuai. Selanjutnya ia menjadi salah seorang Staf Sekretaris Jenderal di Keluarga Muslim Cendekia Medika, semacam Badan Semi Otonom Kerohanian Islam BEM FK UGM. Tugas utamanya mengelola Ma'had KaLAM, pengajian rutin jumat sore di Mushola Ibnu Sina FK UGM.

Ia sangat menikmati kesempatan untuk bisa mengantar jemput para ustadz pengisi Ma'had. Bersamaan dengan itu ia diamanahi sebagai Ketua Badan Pekerja Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM. Tahun berikutnya ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Syiar dan Pelayanan Umat KaLAM FK UGM.

Pada tahun ke tiga kuliah ia mendirikan Partai MERAH (Medika Raya Hadiningrat) bersama beberapa orang kawan SMA yang sama-sama kuliah di FK UGM. Ia mencalonkan adik binaannya dalam bursa pemilihan presiden BEM FK UGM melawan partai penguasa saat itu. Melalui partainya ia berhasil menempatkan beberapa orang untuk duduk di kursi senat dan ia sendiri berkesempatan menjabat sebagai Ketua Komisi Kebijakan Senat Mahasiswa FK UGM. Senat menjadi amanah terakhirnya di kampus. Ia menghindar saat ingin dilibatkan sebagai pengelola Asistensi Agama Islam. "Saya ingin pulang kampung," katanya.

Kembalilah ia ke kampung halaman saat tunas-tunas baru telah bermunculan. Salah satu teman sekamarnya waktu di Islamic Center Al Muhtadin menjadi inspirasi ia membuat pejuangperadaban.blogspot.com. Ia ingin membangun sebuah peradaban impian. Ia memulainya dengan cita-cita sederhana ketika kelas 3 SMP: mengajar TPA di kampungnya. Dari sana ia bertemu dengan para aktivis TPA lereng Merapi melalui Yayasan Al Hikmah.

Ia juga aktif di Badan Koordinasi TKA TPA Rayon Ngemplak. Selain itu ia berusaha menggerakkan dakwah di kalangan remaja melalui Karang Taruna, Sentra Generasi Harapan, serta kegiatan-kegiatan mentoring siswa di SMA. Ia menjadi mentor bukan di SMA tempat dahulu ia sekolah tapi di SMA wilayah Sleman Tengah.

Dalam perjalanan Alloh mempertemukan ia dengan seorang teman sejati. Ia menikah dengan seorang muslimah aktivis KAMMI yang tinggal di lereng Merapi. Wanita itu sah menjadi istrinya setelah dua puluh hari mereka bertemu pertama kali. Istrinya merupakan seorang mantan Menteri Sosial Kemasyarakatan Kabinet Bangkit Melawan BEM KM UGM.

Saat menikah sang istri masih aktif di Bidang Sosial Kemasyarakatan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Sleman. Sebelum menikah calon mertuanya sempat mengajukan pertanyaan, "Kenapa memilihnya?"

"Mungkin dari kesamaan visi Pak, orang yang ingin berbuat untuk masyarakat biasanya sudah selesai dengan diri sendiri," jawabnya singkat.

Di awal menikah ia mendirikan Baitul Quran Jogja bersama kawan-kawannya. Sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan tilawah Al Quran di bawah bimbingan Ustadz Yudi Imana diharapkannya bisa menjadi salah satu ikhtiar untuk menyebarkan kalam Alloh. Sejalan dengan itu ia bersama istri dan beberapa orang pemuda di kecamatan Ngemplak memulai kegiatan BKPRMI Ngemplak, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia. Tak lama kemudian ia bergabung dengan Yayasan Assalaam Yogyakarta untuk mengelola sebuah pesantren.

Selain diamanahi mengelola pesantren ia juga diminta bergabung di divisi pendidikan PT Prima Andalan Group. Melalui Prima Andalan Institute ia membantu komisaris PT PAG membina para pemuda serta mahasiswa untuk berenang dan menyelami dunia kewirausahaan. Ia pun mendapat pencerahan-pencerahan mengenai bisnis dari sang komisaris. Akhirnya ia mendirikan CV KREASILILA sebagai salah satu pengamalan ilmu wirausaha yang didapat dari Ir. H. Zainal Arifin, M. T..

Terdorong untuk berbagi, ia membuat divisi pendidikan di CV nya dengan tajuk ABDI Consulting. Ia mulai berbagi inspirasi dengan menerbitkan buletin jumat "Media Inspirasi ABDI". Beberapa bulan setelah itu ia diamanahi untuk menginisiasi bergeraknya BKPRMI Pakem.

Kembali ia dipertemukan dengan dunia anak muda yang begitu berapi-api. Banyak karya bisa dikerjakan bersama anak muda, menurutnya. Ia mengobarkan semangat anak muda dengan slogan, "Berikan padaku sepuluh pemuda unggul, akan aku pindahkan gunung Merapi ke Bantul!"

Selepas menambang mutiara di dunia remaja, ia menyambut permintaan rekannya untuk ditempatkan di Yayasan Sahabat Al Quran Sleman sebagai pembina. Selain itu ia masih terus mengajar melalui Klinik Al Quran yang berlokasi di Pakem, di samping terus membina para remaja. Merasa terketuk untuk memuliakan para guru, pengajar Al Quran, dan tenaga pendidikan, ia membuat ALDI Foundation.

Ia tidak rela saat mendengar bahwa guru bisnisnya dipinang masyarakat Purwakarta untuk maju sebagai calon bupati melalui jalur independen pada PILKADA serentak 2018. Ia merasa belum selesai belajar. Ibarat belum selesai praktikum lalu gurunya dipindahtugaskan dari sekolahnya.

Takdir terus bergulir. Ternyata ia diuji dengan amanah yang hampir sama dengan gurunya. Ia diperintahkan berjuang di ranah politik. Ia diminta bertarung untuk bisa menjadi pejabat publik. Ia diamanahi maju sebagai Calon Anggota Dewan DPRD Kabupaten Sleman Daerah Pemilihan Ngaglik Pakem Cangkringan dengan angka sebagaimana tahun lahirnya: 87, partai nomor 8 calon nomor 7.

Rute-rutenya dalam kehidupan, ia relakan untuk Alloh pilihkan. Jika baik untuknya, untuk agamanya, untuk penghidupannya, dan baik untuk kesudahan segala urusannya, Alloh akan takdirkan, Alloh akan mudahkan, Alloh akan berikan keberkahan. Jika ternyata jalan yang terbentang itu buruk dalam pandangan Alloh, bagi dirinya, bagi agamanya, bagi penghidupannya, dan buruk bagi kesudahan urusannya, Alloh akan jauhkan jalan itu darinya, dan Alloh akan jauhkan ia dari jalan itu, kelak Alloh akan takdirkan kebaikan bagaimanapun keadaannya, lalu Alloh akan buat ia ridho dengannya. Ia sangat yakin dengan hal itu.

Insyaalloh hidup lebih tenang jika semua urusan diserahkan pada Alloh. Dengan menyerahkan pilihan-pilihan rute pada Alloh, apapun yang ditemui insyaalloh baik semuanya. Itulah ajaibnya iman yang dikaruniakan Alloh dengan bingkai syukur dan sabar. Adapun kerja-kerja dan ikhtiar, tentu tetap diusahakan dengan maksimal, karena setiap ikhtiar dicatat sebagai amal.

Dengan menjalani dan mengikuti rute yang telah digariskan Alloh, insyaalloh Alloh hindarkan manusia dari kesombongan atas pencapaian-pencapaian, juga tak ada kesedihan atas apa-apa yang terlewatkan. Hidup ini adalah perjalanan dari satu takdir ke takdir berikutnya, tak ada hasil yang nyata, tak ada berhasil atau gagal, tak ada yang sia-sia, semua hanya ujian bagi hamba-hamba-Nya. "Kegagalan atau keberhasilan bukanlah isyarat untuk berhenti berjuang."

"Semua sudah tertulis di Lauh Mahfudz," suatu saat temannya menasihati.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tugas seorang prajurit adalah berjuang dengan cara yang benar.

Semoga Alloh tetapkan kebaikan untuk anak itu. Semoga Alloh karuniakan keselamatan untuk anak itu. Semoga Alloh senantiasa tunjukkan jalan baik yang memang harus ditempuh para salik untuk menuju sang Kholiq.

Apakah... anak itu akan berhasil duduk di kursi dewan???

Dukung perjuangan anak itu melalui nomor 08979700923 atau tulis di browser Anda lalu tekan enter: bit.ly/DukungAkhid

Bersambung...

Bertarunglah Dragon Ball
Dengan segala kemampuan yang ada
Bila kembali dari langit
Semoga hidup kan jadi lebih baik

Tugas yang berat dilaksanakan
Berjuang agar lebih baik
Siapa yang dapat melaksanakannya
Dan berusaha mewujudkan
Semua itu demi hidup yang baik
Hanya dia yang mampu melaksanakannya

Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: