Langsung ke konten utama

BERKAH


Oleh Akhid Nur Setiawan

Saya tidak sedang ingin membahas makna tekstual dari judul tulisan ini. Berkah dalam tulisan ini hanyalah sebuah singkatan, bukan berkah yang bermakna "ziyadatul khoir". Sekalipun demikian, semoga berkah yang saya maksud juga bisa menambah kebaikan-kebaikan bagi kita semua.

Berkah merupakan singkatan yang saya rangkum dari tiga frasa: berbudi, berdikari, dan harmoni. Jika Anda mengikuti tulisan-tulisan saya, mungkin Anda pernah membaca mengenai kunci perubahan sosial masyarakat. Setidaknya ada tiga kunci untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat. Apa saja? Pertama keilmuan, kedua kewirausahaan, dan ketiga kesetiakawanan.

Pintu yang terbuka dengan kunci keilmuan ialah masyarakat berbudi. Pintu yang terbuka dengan kunci kewirausahaan ialah masyarakat berdikari. Pintu yang terbuka dengan kunci kesetiakawanan ialah masyarakat harmoni. Dengan ketiganya insyaalloh sebuah komunitas masyarakat bisa berubah menuju lebih baik. Peradaban yang maju bisa dibangun mulai dari pondasi tiga pintu tersebut.

Ketiganya bukanlah konsep atau ide baru. Ketiganya telah diterapkan oleh manusia paling berpengaruh di muka bumi yang atas izin Alloh berhasil membalik kehidupan bangsa Arab yang kacau balau menjadi sedemikian beradab pada masa itu. Dialah Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam yang dengan bimbingan wahyu telah menjadi pencetus, perumus, dan pelaksana sekaligus.

1. Masyarakat Berbudi

Pintu pertama perbaikan masyarakat harus dibuka oleh para _agent of change_ dengan kunci keilmuan. Perhatian terhadap keilmuan harus menjadi prioritas dalam pembangunan sebuah negeri. Jika kita cermati, salah satu tanda masyarakat berperadaban tinggi dapat dilihat dari bagaimana mereka menghargai ilmu dan bagaimana mereka menerapkan penemuan-penemuan untuk kemaslahatan umum. Berapa banyak buku yang ditulis dan dibaca, berapa banyak kaum pelajar, berapa banyak peneliti dan penemu, serta berapa banyak madrasah di bawah bimbingan para guru, bisa menjadi ukuran tingkat perhatian suatu negeri terhadap ilmu.

Sebuah ungkapan mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

Di kesempatan lain Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam mengatakan yang kurang lebih artinya, ”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”.

Juga sabda beliau, "Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat."

Ilmu adalah kunci pertama untuk menghadirkan perubahan sosial masyarakat. Semakin berilmu suatu masyarakat niscaya semakin beradab kehidupan mereka.

Kanjeng Nabi memulai dakwah di Makkah dengan memanfaatkan rumah salah seorang sahabat sebagai madrasah nubuwah. Dari sana Nabi mendidik para asabiqunal awalun. Pada awal memulai kehidupan baru di Madinah Nabi mendirikan masjid. Di sanalah berbagai pengajaran, transfer pengetahuan, duplikasi tindakan, serta aktivitas penyucian jiwa dan pengasahan iman dilakukan. Berbagai diskusi, kajian, pertanyaan dan jawaban muncul saat di masjid Nabi dan para sahabat berkumpul.

Pokok fungsi paling menonjol dari masjid sebagai pusat misi kenabian setidaknya ada tiga: pembacaan ayat, pengajaran kitab dan hikmah, serta penyucian jiwa. Inilah yang dimaksud ilmu. Keilmuan sebagai kunci perubahan masyarakat harus meliputi tiga aspek tersebut. Segala kajian tentang pengagungan ayat Alloh baik qouliyah maupun kauniyah, segala kajian terkait terapan amaliyah dan upaya pencarian solusi atas berbagai masalah, segala ibadah untuk mengasah kepekaan batin dalam mengenali kehendak-kehendak ilahiyah, termasuk dalam fungsi masjid.

Pada masa-masa berikutnya masjid memiliki banyak fungsi di bidang literasi. Orang-orang belajar, membaca, mengkaji, bertafakur, berguru, menulis, mencari inspirasi, dan mengajar dipusatkan di masjid. Tak heran jika ada masjid-masjid kemudian berkembang menjadi kampus, madrasah, hingga perguruan tinggi. Termasuk keberadaan pesantren yang tersebar di negeri kita, rata-rata mereka tumbuh berawal dari aktivitas masjid, mushola, surau, atau langgar. Segala permasalahan aqidah, ilmiyah, amaliyah, ma'rifah, semuanya sepaket berhulu di masjid.

Jika boleh menyederhanakan, keilmuan sebagai kunci pintu masyarakat berbudi meliputi tiga hal penting dalam agama Islam: iman (keyakinan), islam (perbuatan), dan ihsan (perasaan). Dalam dunia pendidikan modern kita mengenal tiga aspek pembelajaran yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ketiga hal inilah yang perlu diasah untuk mendapatkan kunci keilmuan guna membuka pintu masyarakat berbudi.

"Alloh mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan yang diberi ilmu beberapa derajat," firman Alloh dalam surat Al Mujadilah.

2. Masyarakat Berdikari

Sudah masyhur kisah sahabat mulia Nabi bernama Abdurrahman bin Auf saat ditawari bantuan oleh orang-orang Anshor setiba di Madinah pada peristiwa hijrah.

"Tunjukkan saja aku jalan ke pasar," kira-kira begitu jawabannya ketika ditawari rumah, harta, wanita, kebun, dan sebagainya.

Ada marwah dalam diri para pengusaha. Mereka tidak begitu saja menerima bantuan sekalipun keadaan memang berat. Mereka akan berusaha menukar apa yang mereka miliki untuk mendapatkan kebutuhan mereka yang masih dimiliki orang lain. Pertukaran kemanfaatan itu biasanya terjadi di pasar. Produk, jasa, alat tukar, timbangan, takaran, harga, kebutuhan, semuanya bergumul di sana, tanpa ada yang merasa dirugikan, justru saling diuntungkan.

Mereka yang sekiranya mampu untuk bertarung dalam dunia kewirausahaan, mampu bekerja, mampu bertukar manfaat, akan menjaga diri dari meminta-minta atau menerima bantuan. Wilayah pergulatan mereka ada di pasar. Hasil pertanian, perkebunan, peternakan, segala produk dan jasa saling bertukar dan berputar di pasar. Lahan-lahan tidur diaktifkan untuk memproduksi kebutuhan masyarakat. Berbagai akad permodalan dilakukan antara pemilik modal dengan para pengusaha. Para pembelajar magang kepada para ahli. Berbagai keilmuan diterapkan di lapangan.

Islam menaruh perhatian besar pada pasar sebagai pusat pertukaran berbagai manfaat produk dan jasa. Setelah mendirikan masjid Kanjeng Nabi menginisiasi pasar islam yang berjarak beberapa rumah dari masjid. Diistilahkan pasar islam bukan karena yang boleh bertransaksi di sana hanya orang islam. Pasar itu boleh dikunjungi dan digunakan oleh semua orang. Hanya saja pasar itu dibangun ala islam, terutama dari sisi aturan.

Sebelumnya penguasa pasar di Madinah didominasi orang-orang yahudi. Sewa, pungutan, riba, kecurangan, kedzoliman, monopoli, dan sebagainya menjadi praktik keseharian. Mereka bebas membuat aturan, sampai akhirnya islam datang membawa pilihan baru berupa tatanan yang lebih berkeadilan.

Islam mengatur tata cara jual beli. Hampir semua penulis kitab fiqh membuat bab tersendiri tentang jual beli. Fiqh jual beli harus dipahami semua orang sebelum mereka masuk ke pasar. Di pasar ada pengawas yang menjaga agar aturan-aturan tetap tegak. Pasar menjadi semacam ujian untuk melahirkan masyarakat berdikari. Mereka yang berdikari berusaha bertahan tanpa subsidi dan mencoba bertarung tanpa proteksi. Islam tidak membuat pembatasan-pembatasan atau perlindungan khusus pada perorangan atau golongan. Islam hanya memberikan jaminan keadilan.

"Ini pasar kalian, jangan dipersempit, jangan ada pungutan," kata Nabi.

"Sunnah di pasar sama dengan sunnah di masjid," kata Umar bin Khothob selaku pengawas pasar.

Akses pasar terbuka untuk semua kalangan, tidak hanya untuk mereka yang bermodal besar. Siapa datang lebih dulu boleh memilih lokasi lapak yang diinginkan. Di pasar lah tercipta kesetaraan. Di pasar lah tercipta sembilan dari sepuluh peluang.

3. Masyarakat Harmoni

Di antara orang-orang yang bergumul di pasar ada sebagian yang tetap berada di ambang garis kemiskinan. Ada orang-orang muflis atau bangkrut, ada orang orang terlilit utang, ada orang-orang yang menjadi pelayan masyarakat sehingga tak ada waktu untuk berniaga, ada pengembara, dan kaum papa, mereka semua harus dijaga agar tetap survive. Nabi menggunakan perangkat zakat, sedekah, infak, dan wakaf untuk memastikan semua masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Tidaklah beriman orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya,” kata Nabi.

Dengan demikian masing-masing orang berusaha untuk memastikan tetangganya bisa terbebas dari rasa lapar sebelum tidur. Rasa kesetiakawanan menjaga orang-orang yang harus ditopang hidupnya agar tetap bisa bertahan hidup.

Mereka yang kuat membantu yang lemah. Mereka yang kaya menolong yang miskin. Mereka yang berlebih menopang yang kekurangan. Mereka yang pandai mengajari yang kurang pandai. Sesungguhnya seluruh bumi ini cukup untuk kita tinggali bersama-sama, namun seisi bumi tak akan pernah cukup untuk satu orang serakah saja.

"Dia-lah yang mengayakan dan mencukupkan," Alloh berfirman dalam surat An Najm.

Alloh tak pernah menciptakan kemiskinan, Alloh menjadikan kecukupan berhadapan dengan kekayaan. Dengan perintah zakat yang ditujukan kepada para pemimpin, agar mereka mengambil sedekah dari orang-orang yang memenuhi kriteria, kemudian meredistribusikannya pada orang-orang yang harus ditopang hidupnya, seakan-akan Alloh ingin memberitahu kita bagaimana semestinya kita bisa hidup cukup bersama-sama.

"Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara," mungkin begitu bahasa kita.

Sebelum negara turun tangan, dengan anjuran memberi makan orang miskin, memelihara anak yatim, bersedekah, saling menafkahi, saling menghadiahi, berlomba menopang kebutuhan umat dan membangun fasilitas umum, rasanya masalah-masalah kesejahteraan sosial bisa selesai di lingkup RT. Benar, tak perlu menunggu dan menagih negara, lembaga setingkat takmir masjid semestinya sudah bisa menangani masalah-masalah sosial di masyarakat sekitarnya. Lebih indah lagi ketika masyarakat telah memiliki rasa itsar yaitu mendahulukan memberi orang lain sekalipun diri sendiri juga membutuhkan. Insyaalloh hujan barokah akan dilimpahkan Alloh pada masyarakat yang seperti itu.

Pada masa Nabi anjuran sedekah, kewajiban zakat, seruan infak, serta panggilan wakaf dilakukan serta merta. Pada masa Khulafaur Rasyidin wilayah yang dikelola menjadi lebih luas, umat yang diurusi menjadi lebih banyak, masalah pun semakin kompleks. Didirikanlah lembaga pengelola sedekah yang disebut baitul mal di masa para sahabat. Gudang-gudang baitul mal yang berisi bahan pangan, ternak, dan harta yang diambil sebagai bentuk pemenuhan kewajiban dari para muzakki menjadi the last resource untuk mencukupi kebutuhan dasar para mustahiq. Melalui baitul mal orang-orang sakit bisa dibantu diobati, orang-orang jompo bisa disantuni, orang-orang tak berakal bisa dihidupi, orang-orang fakir bisa dicukupi.

Dengan wakaf pemerintah membangun infrastruktur dan fasilitas umum. Semua fasilitas dasar bisa dinikmati gratis karena para wakif mengharap balasan yang tak henti mengalir dari Robb mereka. Biaya-biaya perawatan dan operasional fasilitas diambil dari hasil perkebunan atau aset lain yang juga telah diwakafkan, ditahan pokoknya, dikelola, dan dialirkan hasilnya.

Bagaimana dengan para pelaku kejahatan? Islam memberikan terapi. Mereka yang mencoba membuat disharmoni di tengah masyarakat akan diadili. Konflik-konflik antar masyarakat ditegakkan oleh para qodhi. Hukuman-hukuman diputuskan sejalan dengan harapan akan ampunan di hari pembalasan.

Inilah sebentuk masyarakat harmoni. Dengan harmoni bisa diwujudkan masyarakat yang aman dari ketakutan dan bebas dari kelaparan. Nilai-nilai membaur tanpa paksaan. Orang yahudi punya aturan, berbagai suku punya aturan, islam punya aturan. Untuk menjaga aturan-aturan itu agar tidak saling berbenturan, mereka membuat kesepakatan-kesepakatan dan perjanjian. Semua entitas masyarakat, juga agama, bisa hidup berdampingan, meskipun pada fitrohnya islam lah yang diberi amanah kepemimpinan.

Semoga Alloh karuniakan negeri kita menjadi baldatun thoyibatun wa robbun ghofur. Aamiin...

Penulis bisa dihubungi melalui WhatsApp 08979700923 dan bisa dkunjungi di Alamat Turen Sardonoharjo Ngaglik Sleman DIY


Dukung Mas Akhid Nur Setiawan, S.Kep.
untuk menjadi anggota dewan
DPRD Kabupaten Sleman periode 2019-2024
dengan menekan tombol di bawah ini: